Archive | January, 2015

Rumah Nyaman bagi Lansia dan Difabel

26 Jan

Hallo, readers! 🙂 Rumah yang nyaman tentunya berhak dirasakan oleh setiap penghuni rumah tanpa terkecuali. Termasuk diantaranya; anggota keluarga difabel dan lansia. Untuk menghadirkan rumah ramah lansia dan difabel tentunya membutuhkan perencanaan ruang yang sedikit berbeda. Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan?

top view copy copy

Didalam mempersiapkan tempat tinggal ramah Lansia & Difabel, ada hal-hal yang harus diperhatikan secara rinci, yang pertama adalah mengenai keleluasaan pergerakan pengguna rumah. Buatlah sebuah lingkungan hunian yang dapat mengakomodir pergerakan secara leluasa. Yang dimaksud leluasa adalah rumah dapat mengakomodir dengan baik perpindahan manusia dari satu posisi kepada posisi lain maupun perpindahan antar ruangan. Artinya dalam perpindahan tersebut, pengguna tidak terhalang rintangan yang dapat mengganggu pergerakannya. Oleh karena itu juga, pemosisian elemen interior maupun penyimpanan barang harus pada tempat yang tepat, sehingga efektif diraih, tidak mengganggu pergerakan manusia, dan tentu saja, Rapih.

2011.12 2011 cam 04 copy copy copy

Hal yang ke-2, adalah Jangan lupa untuk memberikan pencahayaan yang baik di setiap ruangan, agar pengguna tempat tinggal dapat melihat dengan baik. Selanjutnya, akomodir pengudaraan yang baik pada ruangan. Bisa dengan meletakkan jendela yang mudah dibuka seperti jendela geser, sehingga dapat terjadi pertukaran udara yang membuat kualitas udara yang baik di dalam ruangan. Hal ini akan mempengaruhi kualitas kesehatan pengguna.

Photography by Edward Sánchez

Setelah hal-hal tersebut di aplikasikan, pikirkan elemen arsitektur apa saja yang dapat membantu Lansia & Difabel yang tidak memiliki kemampuan kekuatan sepenuh kekuatan manusia normal? Antara lain yaitu dengan memberikan sarana pembantu jalan, berdiri dan duduk. Jika kita manusia biasa dapat melakukan perpindahan tanpa perlu berpegangan, maka Lansia & Difabel tidaklah seperti itu. Jika manusia biasa dapat berdiri dari tempat duduk atau WC secara alami, maka Lansia & Difabel tidaklah seperti itu. Oleh karenanya fasilitas seperti Handrail, ramp, tiang penopang tarikan, adalah fasilitas yang perlu diadakan pada hunian. Contoh handrail untuk membantu jalan adalah yang dipasang di sepanjang dinding maupun area yang tidak memilik dinding dan tidak ada elemen tempat berpegang oleh Lansia & Difabel.

3

 

Begitupun toilet dan kamar mandi. Sangat dibutuhkan handrail tempat berpegang agar keseimbangan pengguna terjada serta tidak terpleset. Material handrail yang baik adalah yang tahan karat, tidak licin, dan mudah dipegang seperti Stainless Steel dengan diameter 50 mm. Berikut, saya lampirkan beberapa contoh desain ruang yang leluasa, serta handrail yang dapat diaplikasikan untuk rumah ramah difabel & lansia.

Demikian beberapa tips untuk merencanakan rumah yang nyaman bagi lansia dan difabel. Semoga bermanfaat 🙂

(Artikel ini dimuat pada tabloid Home Bintang Edisi 299, kolom; Tanya Arsitek)

Advertisements

Home Theatre pada Ruang Mungil, bisa kah?

9 Jan

Hi, readers!

Dewasa ini kebutuhan ruang pada hunian/rumah semakin berkembang. Diluar kebutuhan ruang utama seperti kamar tidur, kamar mandi, dan dapur, salah satu ruang yang kini cukup dipertimbangkan kehadirannya ialah ruangan entertainment seperti home theater. Menghadirkan mini bioskop atau area khusus untuk menikmati aneka tontonan film melalui perangkat audio dan video tentunya memberikan kenyamanan tersendiri bagi penghuni didalamnya. Namun, sebuah home theatre memerlukan ketersediaan space ruangan yang memadai. Lalu bagaimana dengan pengaplikasian home theatre pada ruang yang dikategorikan mungil?

home T 12

Untuk menghadirkan mini bioskop yang menyerupai konsep bioskop tentu membutuhkan ruangan yang tidak kecil. Terlebih lagi, ketajaman gambar yang terlihat pada sebuah layar projector akan terlihat sempurna pada jarak tertentu. Namun jangan khawatir, alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan meletakkan sofa duduk alih-alih meletakkan reclaining chair yang akan membuat ruangan terasa sempit. Berbeda halnya apabila Anda memang memperuntukkan ruangan ini bersifat pribadi atau hanya untuk Anda bersama pasangan saja. Selain itu, perhatikan juga jarak horizontal minimum yang harus dibuat antara layar tonton dengan mata pengguna, yang sebesar 3 meter. Hal ini adalah demi kenyamanan visual pengguna ruangan. Untuk peletakkan barang, pusatkan pemosisiannya pada dinding layar / TV atau dinding di sampingnya. Sehingga sebagian besar peruntukan ruang dapat dimanfaatkan sebagai area sirkulasi & tempat duduk pengguna ruang.

iwallpaneling karim-rashid-sound-absorption-panel-1-450x359

Untuk Treatment akustik atau peredam serap suara Home Theater penting diadakan agar suara di dalam ruang tidak bergema dan hasil kualitas suara jernih terdengar. Secara sederhana, material peredam serap suara yang baik adalah yang memiliki sifat ringan, berpori, & tidak dapat meredam getaran, seperti Glasswool, Karpet, maupun Papan akustik fabrikasi. Dengan material peredam serap suara seperti ini, Bapak dapat menentukan bentuk finishing lapis dalam dinding interior yang di inginkan. Seperti misalnya dinding panel geometris ataupun “Cushion wall” pada contoh yang saya berikan. Untuk Wiring electrical component dapat ditempatkan melalui plafond sampai di balik treatment akustik ini sehingga ruangan bebas dari kabel. Letakkan beberapa titik lampu spotlight di sudut-sudut ruangan, untuk mempertegas warna & tekstur dinding akustik atau hanya sebagai cahaya aksen demi mempercantik ruangan Anda.

home T 11

Langkah terakhir adalah menentukan tema warna. Bapak dapat mengkombinasikan warna-warna menyala seperti merah dan pink atau orange dengan aksen hijau untuk ruang dengan mood psikologi yang ceria, atau kombinasi serat kayu serta cahaya kuning temaram untuk ruang dengan mood psikologi yang hangat dan tenang. Material cat, kain, maupun Laminated Sheet dengan tekstur kayu dapat menjadi pilihan untuk finishing interior Home Theater.

Bagaimana? Berminat menghadirkan home theatre pada hunian Anda? Selamat berkreasi!:)

(Artikel ini dimuat pada tabloid Home Bintang Edisi 297, kolom; Tanya Arsitek)