A Unique Mozaik & Architecture

21 May

Hello Readers!

Kalian tentunya pernah mendengar ‘mozaik’, lalu apa itu mozaik?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, mozaik adalah seni dekorasi bidang dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat (Depdiknas 2001,756). Mozaik-Tile memang disukai karena menarik indra visual dan sentuhan manusia. Hal ini karena Mozaik terdiri dari komposisi potongan-potongan keramik dengan satu ataupun beberapa warna dengan bentuk acak ataupun konsisten, yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya seni rupa yang mengandung nilai estetika.

Dewasa ini, seni mozaik telah banyak berkembang, lalu bagaimana dengan seni mozaik yang diterapkan dalam arsitektur bangunan?

Membahas pertanyaan tentang metode mozaik pada arsitektur, mengingatkan saya kepada teori Dekonstruksi yang dikemukakan oleh Jacques Derrida yang mengilhami fenomena Arsitektur yang dikenal dengan Arsitektur Dekonstruksi. Secara umum saya mendefiniskan Arsitektur Dekonstruksi sebagai fenomena Arsitektur yang tidak memiliki ideologi ataupun tujuan formal, kecuali semangat untuk membongkar kemapanan dan kebakuan yang selama ini menjadi pola perancangan Arsitektur pada umumnya. Walaupun kerumitan proses perancangan Arsitektur Dekonstruksi tetap tidak bisa disederhanakan. Namun melalui kacamata Arsitektur Dekonstruksi, pengolahan fasad bangunan dapat dilakukan dengan pendekatan yang diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan penataan yang jika dilihat dari sudut pandang tertentu memiliki kemiripan dengan permainan seni mozaik, dengan obyek utama permainannya adalah volume daripada bidang.

Lalu bagaimana pengaplikasiannya pada bangunan?

Seni mozaik dapat kita terapkan pada fasad bangunan. Pada umumnya mozaik yang digunakan pada bangunan biasanya berupa mozaik yang terbuat dari batu alam yang beraneka macam jenisnya. Selain batu alam, terdapat juga Mozaik-tile yang dibuat dari fabrikasi keramik dengan bentuk yang unik seperti lengkungan maupun dari bahan metal. Dan, dewasa ini juga tersedia mozaik batu alam maupun fabrikasi yang dijual di beberapa toko material tertentu.

Dalam pengaplikasiannya, kita dapat mengaplikasikan mozaik-tile pada bagian fasad yang merupakan Focal Point bangunan, yaitu menjadikan salah satu bidang dinding menjadi paling eye catching pada fasad bangunan. Selain itu, kita juga bisa mengaplikasikan mozaik pada bidang dinding lainnya. Pada beberapa contoh bangunan tingkat tinggi di negeri seberang dapat kita jumpai finishing mozaik sebagai material utama fasadnya. Berikut beberapa contoh bangunan dengan pengaplikasian mozaik pada fasadnya:

1. Gedung Yamaha Jepang

Gedung Yamaha

2. Royal Ontario Museum by Daniel Liebskind

Royal Ontario Museum Daniel Libskind

2. Chung Hua Building Korea

Chungha-Building_Korea

Demikian, tertarik mencobanya? Semoga Menginspirasi🙂

(Artikel ini dimuat pada tabloid Home Bintang Edisi 306 kolom; Tanya Arsitek)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: